DINAS PERTANIAN DAN PERIKANAN KOTA DEPOK MENGGELAR ROADSHOW PUBLIC AWARENESS

  1. IMG-20160617-WA0019Kesehatan masyarakat Veteriner (Kesmavet) adalah segala urusan kesehatan hewan dan produk hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia. Kesmavet merupakan bagian penting dari aktivitas masyarakat, merupakan rantai penghubung antara bidang pertanian dan kesehatan manusia yang berkaitan dengan pengobatan, pengendalian dan pencegahan penyakit yang ditularkan melalui hewan (zoonosa) serta penyakit yang ditularkan melalui pangan  (food borne diseases), seperti daging, susu, telur dan produk turunannya.  Selain menjamin pangan asal hewan, Kesmavet juga berperan dalam penjaminan produk hewan non pangan, seperti kulit, bulu, tanduk, tulang dan turunannya yang aman dan berdaya saing.

Kementerian Pertanian RI melaksanakan kegiatan Roadshow public awareness Kesehatan Masyarakat Veteriner (kesmavet) dan pasca panen yang dilaksanakan di 5 (lima) provinsi dan 9 (Sembilan) kota, Provinsi Jawa Barat dilaksanakan di Kota Depok. Tujuan diselenggaranyan kegiatan tersebut adalah:

  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan asal hewan yang halal, aman, utuh dan sehat (HAUS);
  2. Mengajak para pelaku usaha pangan asal hewan agar berperan aktif dalam menyediakan pangan yang halal, aman, utuh dan sehat (HAUS).

Kegiatan Roadshow Public Awareness Kesmavet PAH di Depok dilaksanakan pada Jumat 17 Juni 2016 bertempat di halaman Balaikota Depok. Dihadiri oleh sekitar 150 orang undangan dari berbagai elemen, unsur pemerintah, unsur masyarakat dan para pengusaha di bidang pangan asal hewan. Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah:

  1. Walikota Depok
  2. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian RI
  3. Akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB)

Kegiatan tersebut disiarkan langsung secara nasional di RRI saluran Pro-3 FM, dan Pro-1 FM dan siaran tunda di TVRI.  Kegiatan tersebut selain dialog tatap muka antara para narasumber dengan audience, juga ada demo pengujian Produk Pangan Asal Hewan yang dilaksanakan oleh Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) serta bazaar produk pangan asal hewan (daging sapi, daging ayam dan telur).

Pangan Asal Hewan (PAH) harus memenuhi standarisasi Halal, Aman, Utuh dan Sehat (HAUS), yaitu:

  1. Halal:      Hewan yang disembelih maupun produknya ditangani sesuai syariat Islam serta tidak berasal dan mengandung zat/ bahan yang haram;
  2. Aman:   Produk tidak mengandung bahaya biologis, fisik dan kimiawi yang dapat menyebabkan sakit sehingga mengganggu kesehatan manusia.
  3. Utuh:      Produk tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian dari hewan lain;
  4. Sehat:     Produk memiliki zat-zat yang dibutuhkan dan berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh manusia.

Isu Pangan Asal Hewan (PAH) di Kota Depok adalah sebagai berikut:

  1. Pemotongan ternak hewan di tempat yang telah disediakan oleh pemerintah atau di tempat yang telah direkomendasikan oleh pemerintah (di RPH dan atau RPU);
  2. Masyarakat memilih bahan makanan asal hewan yang halal, aman, utuh dan sehat (HAUS);
  3. Berbelanja secara cerdas, memilih alternatif protein hewani (apabila tidak mampu membeli daging sapi dapat digantikan dengan daging ayam atau telur).

Tuntutan jaminan mutu dan keamanan pangan terus berkembang sesuai dengan persyaratan konsumen.  Hal ini membawa dampak terhadap perubahan pengelolaan bisnis pangan, sejak tanpa pengawasan hingga adanya pengawasan produk akhir, bahkan pengawasan proses produksi bagi jaminan mutu secara total.

Untuk memenuhi persyaratan hygine dan sanitasi minimal adalah melalui sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), yaitu sebagai bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan hygine sanitai sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan (PAH) pada unit usaha pangan asal hewan.

Pelaku usaha pangan asal hewan (PAH) yang wajib mempunyai NKV adalah:

  1. Rumah Pemotongan Hewan (RPH), Rumah Pemotongan Unggas (RPU);
  2. Usaha budidaya unggas petelur;
  3. Usaha pemasukan, usaha pengeluaran PAH
  4. Usaha ditribusi dan ritel (pengelola usaha gudang pendingin, took/kios daging, pelaku usaha pengelola unit pendingin susu termasuk usaha gudang pendingin susu, pengusaha yang mengemas dan melabel telur;
  5. Usaha pengolahan pangan asal hewan (PAH), pabrik bakso, pabrik sosis dan lainnya.

Setiap pelaku usaha yang telah memperoleh NKV wajib mencantumkan nomor NKV pada:

  1. Untuk daging diberikan stempel pada daging atau label pada kemasannya;
  2. Untuk telur diberikan stempel pada kerabang dan atau label pada kemasannya;
  3. Untuk susu diberikan label pada kemasannya
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply